5 Alasan Mengapa Liverpool Masih (Tetap) Mengkhawatirkan

151029klopp1

Setelah bergonta-ganti musim, bergonta-ganti pelatih, bongkar pasang skuad, serta menghabiskan jumlah uang yang tidak sedikit untuk membeli pemain baru, banyak fans Liverpool yang berharap banyak pada timnya untuk dapat berbicara banyak pada Premier League musim 2016/2017 yang baru saja bergulir di bulan Agustus ini. Ditangani pelatih sekaliber Juergen Klopp, pelatih ekstentrik asal Jerman yang mampu membuat Borussia Dortmund menjadi juara Bundesliga, DFB Pokal, dan German Super Cup, membuat banyak fans Liverpool berekspektasi tinggi dengan pencapaian timnya bahkan sejak musim lalu. Namun, hingga awal musim ini digulirkan, tidak sedikit pula fans Liverpool yang masih merasa resah dengan penampilan timnya yang nampaknya masih belum mengalami peningkatan signifikan.

Hal tersebut sepertinya bisa dimaklumi. Berikut ini adalah beberapa poin yang menunjukkan bahwa fans Liverpool masih akan mengalami harap-harap cemas karena performa tim Liverpool secara keseluruhan yang seringkali naik-turun seperti roller-coaster.

Inkonsistensi

highlights-premier-league-arsenal-3-4-liverpool

zzburnleyliverpool3-2345

Di match perdana Liverpool pada ajang Premier League musim ini, Liverpool berhasil mengalahkan Arsenal di Emirates Stadium dengan skor 4-3, tidak terlepas berkat kegemilangan seorang Phillipe Coutinho yang mencetak dua gol, termasuk free kick spektakuler dari jarak jauh yang menyamakan kedudukan di akhir babak pertama, serta gol solo run individual Sadio Mane, pemain yang baru saja didatangkan dari Southampton dengan mahar 34 juta poundsterling. Meskipun Arsenal tampil dalam kondisi tidak full-team, tetap saja hasil tersebut merupakan hasil yang gemilang untuk mengawali kiprah Liverpool di awal musim. Ekspektasi pun membubung tinggi di dada setiap Liverpudlian, julukan lain dari fans Liverpool. Namun, siapa sangka, di pertandingan keduanya melawan tim promosi Burnley, “The Reds” takluk dengan skor 2-0, meskipun menguasai pertandingan dengan 80 persen ball possesion. Sebuah perubahan performa yang sangat Liverpool-esque sekali. Hal-hal tersebut sebenarnya sudah sering terjadi bahkan saat Liverpool masih ditangani seorang Rafael Benitez, di mana kala itu Liverpool masih bersaing ketat di posisi “Big Four” dan berkiprah di Champions League (UCL). Liverpool kerap mengalahkan tim-tim besar, seperti Chelsea atau Manchester United, di saat banyak orang merendahkan kans mereka untuk menang. Bahkan, di musim 2008/2009 Liverpool mampu mengalahkan rival abadi mereka, United, di match home and away, termasuk kemenangan sensasional di Old Trafford dengan skor 4-1. Namun, karena terlalu banyak membuang poin krusial di pertandingan di mana Liverpool diunggulkan untuk menang, pada akhirnya United yang keluar sebagai juara Premier League kala itu. Permasalahan tersebut berlanjut bahkan hingga saat Liverpool dilatih oleh Juergen Klopp. Dengan taktik Gegenpressing­ ala Klopp, musim lalu Liverpool beberapa kali menyulitkan dan bahkan mampu meraih hasil maksimal secara meyakinkan ketika melawan tim-tim besar, seperti saat mengalahkan Chelsea dengan skor 3-1 di Stamford Bridge dan membantai Manchester City dengan skor 4-1 di Etihad Stadium. Namun, di tengah rangkaian hasil impresif tersebut, terselip juga hasil-hasil memalukan seperti saat Liverpool takluk 3-0 saat away ke markas Watford atau saat kalah 2-0 di St James Park, markas Newcastle United, tim yang pada akhirnya terdegradasi di akhir musim. Premier League memang merupakan sebuah liga yang sangat unpredictable, namun seandainya saja Liverpool tidak terlalu banyak membuang-buang poin melawan tim yang seharusnya bisa mereka kalahkan, Liverpool pasti akan lebih banyak berbicara pada persaingan di papan atas.

Tidak adanya sosok yang berjiwa leader

330179_2815537422095_1068626276_2964817_1818870835_o

jordan-henderson-liverpool-manchester-united-anfield_3401506

Sejak sang kapten yang juga merupakan legenda hidup Liverpool, Steven Gerrard, meninggalkan Anfield untuk melanjutkan karirnya di Major League Soccer (MLS), Liverpool secara resmi menunjuk gelandang Jordan Henderson, sebagai suksesor Stevie G, sapaan Gerrard, untuk mengemban jabatan sebagai kapten Liverpool. Hal tersebut tentunya merupakan beban yang besar, untuk menjadi penerus dari seorang yang punya kharisma kuat seperti Gerrard di tim yang punya segudang sejarah hebat seperti Liverpool, bagi gelandang asal Inggris berusia 26 tahun ini. Dan benar saja, nampaknya beban tersebut masih belum mampu ditanggung sepenuhnya oleh Henderson. Selain dirinya terlihat datar alias seolah tidak memiliki aura seorang pemimpin yang mampu memberi komando kepada rekan-rekan setimnya di lapangan maupun memberi motivasi lebih, hal tersebut ditambah dengan performa Henderson secara statistik yang sebenarnya biasa-biasa saja dan bukan merupakan tipikal performa seorang jenderal lapangan tengah yang tangguh. Banyak sekali perdebatan antar fans Liverpool di internet yang menyoroti kinerja Henderson saat bermain, mulai dari masalah salah umpan, sering melakukan salah kontrol atau karena positioning yang buruk. Memang agak harsh untuk mencela Henderson mengingat beban besar yang ia tanggung, dan biarlah persoalan baik atau buruknya performa Henderson menjadi perdebatan internal di kalangan fans Liverpool saja. Namun, ada baiknya Liverpool segera mencari sosok lain dengan mental baja layaknya seorang leader pada umumnya, karena tidak terlepas dari steorotype bahwa tim-tim raksasa biasanya memiliki seorang kapten yang diakui kemampuannya dan disegani baik oleh rekan satu tim maupun oleh lawan.

Alberto Moreno

moreno

Saat Liverpool resmi melepas Glen Johnson, bek kanan mereka ke Stoke City pada tahun 2015 yang lalu, banyak fans Liverpool yang merasa lega karena setidaknya lini pertahanan mereka di sebelah kanan akan tidak serapuh dan tidak akan mudah diekspos seperti halnya saat Johnson masih bermain di posisi itu, di mana seringkali ia bermain terlalu maju kedepan karena keasikan melakukan overlapping sehingga meninggalkan lubang besar di sisi sebelah kanan pertahanan Liverpool, belum lagi karena positioning-nya yang seringkali buruk. Namun, siapa sangka nampaknya “virus” seorang Johnson kini nampaknya berpindah ke sektor sebelah kiri pertahanan Liverpool, posisi dari bek kiri asal Spanyol bernama Alberto Moreno.

503968_0

Tidak bisa disangkal lagi bahwa Moreno seringkali menjadi titik lemah yang mudah dieksploitasi oleh pemain-pemain sayap yang memiliki mobilitas tinggi saat tengah melawan Liverpool. Penempatan posisinya yang sering out of position karena terlalu maju ke depan dan terlalu mudahnya ia untuk dilewati oleh pemain sayap lawan seperti ketika saat pertandingan final Europa League musim lalu saat melawan Sevilla atau saat pertandingan perdana Premier League musim ini saat melawan Arsenal, banyak membuat kalangan mulai dari fans biasa hingga seorang legenda Liverpool seperti Jamie Carragher pun angkat bicara untuk mengkritisi penampilan Moreno.

liverpool_carragher_tweet_cropped_blocked-large_trans++lwkhEX3szuMwSpboax30UtbkbdpeqweHzW0N2r9QF5k

Bila Moreno tidak mampu meningkatkan kualitas permainannya, bukan tidak mungkin dirinya akan selalu menjadi santapan empuk pemain lawan dan akan sering menjadi scapegoat atas hasil-hasil buruk yang didapat oleh Liverpool nantinya.

Lini depan yang kurang tajam

518746440-1-1024x683

Tak bisa dipungkiri, sepeninggal Luis Suarez yang hengkang ke Barcelona, Liverpool masih kesulitan mencari penyerang yang mampu memberikan kontribusi sepadan bagi klub. Sebelumnya Liverpool memiliki deretan striker mulai dari Rickie Lambert, Mario Balotelli, Fabio Borini, Christian Benteke, Daniel Sturridge dan Divock Origi. Namun, hanya dua nama terakhir yang masih bertahan di Liverpool, sisanya terpaksa hengkang karena dianggap tidak cocok dengan sistem permainan yang diterapkan juga tidak mampu berkontribusi banyak bagi tim. Bahkan, kita lebih sering melihat seorang Roberto Firmino ditempatkan sebagai penyerang di lini depan Liverpool oleh Klopp, di mana ia sebenarnya lebih banyak beroperasi sebagai “False Nine” yang aktif bergerak mencari ruang ke sisi sayap maupun turun ke bawah untuk menjemput bola, karena Firmino sendiri merupakan pemain yang cukup versatile. Atau misalnya Liverpool masih banyak menggantungkan nasibnya pada kejeniusan yang datang dari seorang Coutinho, playmaker asal Brazil, dalam mencetak gol. Coutinho sendiri terkenal akan long range shoot yang begitu mematikan dan akurat, dan tidak jarang momen-momen brilian dari Coutinho tersebut menentukan kemenangan Liverpool di saat-saat yang krusial.

FBL-ENG-PR-STOKE-LIVERPOOL

img-20150921-daniel-sturridge-4

Sebenarnya Liverpool memiliki seorang goal-getter murni yang hebat dalam seorang Daniel Sturridge. Pemain ini memiliki kecepatan, dribble, dan finishing yang menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang striker yang haus gol. Ia juga terbukti mampu bekerja sama dengan baik bersama tandemnya di lini depan. 22 gol yang ia cetak di Premier League pada musim 2013/2014 saat berduet dengan Suarez (atau terkenal dengan istilah duo SAS) merupakan bukti nyata bahwa Sturridge bisa menjadi solusi saat Liverpool membutuhkan banyak gol saat berkompetisi di berbagai ajang yang mereka ikuti, asalkan Sturridge berada dalam kondisi yang 100 persen fit. Sayangnya, ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bolak-balik masuk ke rumah sakit karena cedera kambuhan yang dialaminya.

Liverpool sudah sulit menggaet pemain berkualitas dengan harga yang sepadan

liverpool-unveil-new-signing-christian-benteke2

Kedalaman skuad sangatlah diperlukan oleh suatu tim dalam mengarungi musim kompetisi yang panjang, apalagi Liverpool bermain di Premier League, liga yang tidak mengenal istilah libur (bahkan tim di Premier League tetap bertanding di saat Natal dan Tahun Baru). Manajemen Liverpool sendiri sudah banyak mengeluarkan uang untuk membeli pemain-pemain baru, yang diharapkan mampu menambah kualitas dari skuad yang sudah ada. Namun, sudah seringkali pula fans Liverpool dikecewakan karena pemain yang didatangkan tidak sesuai dengan price tag yang mereka miliki. Sebut saja Andy Carroll yang didatangkan dari Newcastle dengan banderol 35 juta poundsterling, dan Christian Benteke yang didatangkan dari Aston Villa dengan harga 32.5 juta poundsterling.  Memang, harga mereka bukanlah harga yang dapat memecahkan rekor transfer seperti saat Fernando Torres dibeli Chelsea seharga 50 juta poundsterling, ataupun ketika Angel Di Maria didatangkan United dari Real Madrid dengan harga 59 juta poundsterling, sebelum akhirnya fail di klub barunya dan banyak membuat fans klub-klub tersebut kecewa karena harga selangit yang dikeluarkan berbanding terbalik dengan kontribusi yang diberikan bagi tim, sebelum akhirnya dijual ke klub lain. But, a failure is still a failure. Praktis, transfer yang terbukti sukses dan membuahkan hasil positif yang dilakukan Liverpool dalam 5 tahun terakhir adalah ketika mereka mendatangkan pemain exceptional seperti Suarez dari Ajax dengan harga “hanya” 22 juta poundsterling, dan tentunya pemain seperti Coutinho (yang saya akui kebijakan transfer satu ini harus diacungi jempol) yang didatangkan dari Inter Milan dengan harga 8.5 juta poundsterling. Sisanya, kebijakan transfer Liverpool dalam mendatangkan pemain seringkali mengecewakan, dan pemain-pemain yang ada dalam skuad Liverpool sekarang ini masih harus berbuat banyak untuk membuktikan bahwa mereka pantas bermain bagi klub yang berasal dari Merseyside ini. Dibandingkan dengan klub-klub rival Liverpool di Premier League, seperti Arsenal yang mampu mendatangkan pemain sekelas Mesut Ozil, Alexis Sanchez hingga Granit Xhaka, atau Chelsea yang mendatangkan pemain-pemain sekelas Eden Hazard dan Cesc Fabregas, transfer policy Liverpool harus diakui sedikit tertinggal. Saya sendiri tidaklah mengatakan kebijakan Liverpool untuk mendatangkan pemain, seperti Georginio Wijnaldum, misalnya, sebagai policy yang buruk. Wijnaldum, yang juga merupakan gelandang tim nasional Belanda sendiri didatangkan setelah dirinya mampu mencetak 11 gol bagi Newcastle United pada Premier League musim 2015/2016 yang lalu. Sebuah stats yang tidak bisa dikatakan jelek bagi seorang gelandang yang bermain bagi tim yang terdegradasi. Namun, apakah Wijnaldum merupakan kualitas yang saat ini benar-benar dibutuhkan oleh Liverpool, hanya waktu yang akan menjawab.

uefa_champions_league-wallpaper

Mungkin faktor Liverpool yang sudah jarang berpartisipasi di kompetisi Eropa, di mana dalam 6 tahun terakhir Liverpool hanya sekali lolos ke babak utama Champions League, kompetisi kasta tertinggi di Eropa, dan sisanya hanya bermain di Europa League atau malah tidak lolos ke kompetisi Eropa sama sekali, menjadi pertimbangan lanjut bagi para pemain untuk bergabung dengan Liverpool, terlepas dari kenyataan bahwa Liverpool memiliki sejarah panjang sebagai salah satu klub tersukses di Inggris. Mungkin apabila Liverpool memiliki kekuatan finansial dari pengusaha asal Asia Timur ataupun uang dari juragan minyak Arab ditambah seluruh elemen klub memiliki ambisi kuat menjadi kompetitor juara di Premier League serta kembali disegani di daratan Eropa, Liverpool akan dengan mudah mendapatkan pemain berkualitas yang mereka inginkan.

csm_89019-klopp1_8392f0ec60

Saya pribadi mengagumi sosok Juergen Klopp, pelatih yang terkenal akan gayanya yang suka meledak-ledak dalam merayakan selebrasi, ataupun ketika membangun suasana yang akrab dengan para pemain, baik pemain asuhannya sendiri maupun pemain lawan, memang sulit membuat dirinya untuk tidak disukai oleh para penggemar sepakbola pada umumnya. Namun, Klopp sepertinya harus cepat untuk menentukan formula yang pas bagi Liverpool agar dapat memberi bukti nyata bahwa Liverpool masih mampu meraih prestasi di era yang sekarang. Jika tidak, bukan tidak mungkin dirinya akan bernasib sama seperti pendahulunya, yakni Brendan Rodgers, yang dipecat karena dianggap gagal bersama Liverpool. Namun lagi-lagi, apabila misalnya seorang Klopp, pelatih yang pernah membawa Dortmund mengangkangi Bayern Munich, tim yang sejatinya lebih kuat secara finansial di Bundesliga, dan merubah Dortmund menjadi salah satu tim kuda hitam dengan sepakbola atraktif di Eropa, gagal membawa Liverpool kembali ke level atas, maka sesungguhnya saya pribadi sudah tidak tahu lagi siapa yang mampu menolong Liverpool nantinya. Lagi, biarlah waktu yang akan menjawab.

klopp

Jadi bagaimana para Liverpudlian? Masihkah tetap lantang bernyanyi YNWA?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s