Chelsea, From “Dark Horses” To “Serious Contender”

conte-chelsea

Saat Premier League musim 2016/2017 resmi digulirkan pada tanggal 13 Agustus yang lalu, kita seringkali melihat perbincangan hangat di internet mengenai Jose Mourinho dan Pep Guardiola, dua sosok manajer yang memulai debut mereka di klub barunya pada musim ini, masing-masing di Manchester United dan Manchester City. Perbincangan tersebut bahkan sudah dimulai saat masa pre-season, misalnya topik tentang Mourinho yang nampaknya akan mengembalikan fear factor bagi United, akankah Pep melanjutkan tradisi juaranya bersama City seperti yang ia lakukan bersama Barcelona dan Bayern Munich, hingga opini beberapa fans yang menganggap pertandingan derby Manchester pada musim ini akan bernuansa El Clasico yang penuh intrik dan pemenangnya dapat selangkah lebih dekat menjadi juara, mengingat Mourinho dan Pep juga pernah bersaing saat keduanya melatih di La Liga, dan masih banyak lagi. Banyak penggemar setia Premier League pun menjagokan United atau City sebagai kandidat kuat juara Premier League pada musim ini.

1467974560_promo291983752

manchester-city-16-17-home-kit-8

Namun, ada satu tim lagi yang juga mendatangkan manajer baru demi meraih ambisi mereka untuk mengobati kekecewaan setelah hancur lebur pada Premier League musim lalu. Tim tersebut adalah Chelsea, tim yang harus puas finish di peringkat 10 klasemen akhir setelah pada musim 2014/2015 berhasil keluar sebagai juara. Setelah melalui musim yang penuh dengan kenangan buruk, mulai dari terdepak secara menyakitkan di ajang piala domestik dan kompetisi Eropa, dipecatnya “The Special One” Mourinho yang membuat kecewa banyak fans Chelsea sendiri, performa beberapa pemain kunci yang seringkali mengecewakan, hingga memecahkan rekor sebagai juara bertahan Premier League yang paling buruk mempertahankan posisinya di musim setelah menjadi juara (bahkan lebih buruk dari United yang finish di posisi 7 pada era David Moyes setelah memastikan diri menjadi jawara Inggris yang ke-20 kalinya), membuat Chelsea bertekad menjadikan musim ini sebagai momentum untuk mengembalikan aura positif di Stamford Bridge.

cnwfmacxyaqiwjb

4fa2d7644ea4a22613b242a3dd400f2c_mediagallery-fullscreen

Langkah pertama yang dilakukan manajemen Chelsea untuk mewujudkan hal tersebut adalah menunjuk pelatih asal Italia, Antonio Conte, sebagai manajer baru Chelsea pada musim ini. Pelatih yang sebelumnya memiliki track record positif bersama Juventus setelah sukses membawa tim zebra asal Turin tersebut meraih gelar scudetto di Serie A, serta membawa tim nasional Italia tampil cukup baik di ajang Euro 2016 yang lalu, meski pada akhirnya harus kalah di perempat final melawan juara dunia Jerman melalui adu penalti, diharapkan mampu melanjutkan trend kepelatihannya yang positif bersama Chelsea. Banyak fans klub rival dari Chelsea yang mencibir respon positif yang ditujukan kepada Conte, dengan menyamakan dirinya dengan seorang Louis van Gaal (LVG), karena beberapa kesamaan yang dimiliki mereka, di mana LVG dianggap sukses di level tim nasional saat secara mengejutkan membawa Belanda menjadi peringkat 3 di Piala Dunia 2014 yang lalu, sebelum memulai petualangan barunya di level klub bersama Manchester United. Namun, ekspektasi tinggi yang ditujukan kepada LVG berbanding 180 derajat dengan performa skuad United yang diasuhnya yang overall dianggap mengecewakan, salah satunya karena LVG gagal membawa United bermain di Champions League di musim kedua kepelatihannya setelah menggelontorkan dana sekitar 300 juta poundsterling untuk membeli pemain baru. Banyak yang menyindir seorang Conte, yang dianggap banyak pihak tampil lumayan sukses di level internasional bersama tim nasional Italia pada ajang Euro 2016 yang lalu, akan bernasib gagal di level klub seperti halnya LVG. Namun, sepertinya agak terlalu dini untuk men-judge demikian, apalagi LVG dan Conte adalah dua manajer yang memiliki karakter, mentalitas dan skema taktik permainan yang jauh berbeda. Sampai artikel ini selesai ditulis, Conte telah memainkan tiga pertandingan liga bersama Chelsea, dan meskipun pada dua pertandingan awal melawan West Ham dan Watford, Chelsea terlihat kesulitan dan membutuhkan gol di menit-menit akhir untuk menang dengan susah payah, namun Chelsea masih sanggup meraih poin maksimal, yakni 9 poin. Kemenangan yang efektif seperti ini sudah pernah menjadi trademark tim asuhan Conte sebelumnya, tim nasional Italia, pada Euro 2016 lalu. Di mana Italia saat itu bermain dengan gaya sepakbola yang tidak bisa dibilang indah, malah cenderung membosankan, namun mereka tetap mampu bermain taktis dan meraih kemenangan melawan tim-tim kuat seperti Belgia dan bahkan menyingkirkan juara bertahan Spanyol, di babak 16 besar. Apabila Conte mampu meneruskan trend kemenangan secara simpel yang Italian-esque tersebut bersama Chelsea seperti yang sudah dilakukannya di awal musim ini, harus diakui Chelsea memiliki sign of a champions, karena tidak peduli bagaimana caranya, yang terpenting dalam berkompetisi di liga yang ketat seperti ini adalah hasil akhir, yang tidak peduli bagaimana caranya diperoleh, comeback or last minute goal, it’s the 3 points that matters in the end.

nintchdbpict000230610960-e1468396579996

Mungkin skuad Chelsea yang sekarang tidaklah mengalami perubahan secara besar-besaran dibanding kompetitor mereka yang lain, seperti United yang mendatangkan striker flamboyan Zlatan Ibrahimovic dari Paris Saint Germain secara gratis hingga memecahkan rekor transfer dunia untuk mendatangkan kembali si “anak hilang” Paul Pogba, atau City yang mendatangkan banyak sekali pemain baru yang diharapkan mampu menyesuaikan diri mereka dengan filosofi sepakbola milik Pep, sebut saja John Stones, Ilkay Guendogan, Nolito, Leroy Sane, Gabriel Jesus, hingga kiper Claudio Bravo. Namun, skuad Chelsea yang juga merupakan skuad ala tim papan atas pada umumnya tetap tidak bisa dipandang sebelah mata. Satu hal yang perlu disorot dari skuad Chelsea musim ini adalah kehadiran seorang N’Golo Kante, gelandang breaker handal yang terkenal sebagai pemutus serangan lawan ini merupakan sosok underrated saat membawa Leicester City secara mengejutkan menjadi juara Premier League musim lalu, karena kemampuannya dalam melakukan interception dan secara energik mampu menguasai lini tengah. Apabila Kante mampu mengeluarkan performa terbaiknya seperti saat bersama Leicester, dan tandemnya, Nemanja Matic, mampu mengembalikan penampilan impresifnya seperti kala ia menjadi figur penting yang merajai sektor lapangan tengah Chelsea saat membawa Chelsea menjadi juara Premier League pada musim 2014/2015 yang lalu, nampaknya lini tengah Chelsea akan menjadi salah satu lini yang paling sulit untuk ditembus karena solidnya penampilan dua pemain ini.

michy-batshuayi-chelsea-media-press-presser-new-signing_3529203

Bisa dibilang, Chelsea memiliki kedalaman skuad yang cukup baik antara tim utama dan cadangan, itu terlihat bagaimana di bench, Chelsea masih mempunyai deretan pemain seperti Pedro Rodriguez, Cesc Fabregas, hingga Michy Batshuayi. Nama terakhir yang disebut barusan merupakan pemain muda asal Belgia yang baru didatangkan Chelsea pada musim ini dari Olympique Marseille. Kecepatan dan akselerasi yang eksplosif dari seorang Batshuayi dapat dimaksimalkan saat dirinya masuk menjadi pemain pengganti di saat lini pertahanan lawan sudah terkuras tenaganya di babak kedua, dan bukan tidak mungkin Batshuayi akan dijadikan plan B oleh Conte ketika Chelsea mengalami kebuntuan, karena sebelumnya ia juga sudah mampu menjadi super-sub kala mencetak gol sebagai pemain pengganti saat away ke Vicarage Road, markas dari Watford. Di saat-saat akhir transfer deadline day, Chelsea mendatangkan dua orang pemain bertahan, yakni Marcos Alonso dari Fiorentina dan David Luiz yang dibeli balik dari Paris Saint Germain setelah sebelumnya ia dijual ke klub juara Ligue 1 tersebut dengan harga 50 juta poundsterling. Apakah Conte akan memasukkan mereka berdua sebagai rencana utama ataukah hanya sebagai pelengkap skuad saja, nampaknya cukup menarik untuk ditunggu.

eden-hazard

Charity tournament for the families of Soma victims: Chelsea vs Fenerbahce

Hal lain yang dapat membantu banyak bagi Chelsea dalam mengarungi berbagai macam kompetisi yang diikuti mereka musim ini adalah, apabila para pemain kunci mereka dapat kembali ke level terbaiknya. Sebut saja Eden Hazard. Pemain yang menjadi PFA Player of The Year pada musim 2014/2015 setelah sukses membawa Chelsea menjadi juara Premier League, praktis hilang bagaikan ditelan bumi pada musim lalu, di mana Hazard hanya mampu mencetak 4 gol di Premier League, dan gol pertamanya pun baru datang di saat musim sudah hampir berakhir kala away ke kandang Bournemouth saat itu. Namun, untuk mencoret seorang Hazard karena performanya yang buruk di musim lalu yang memang chaos bagi Chelsea secara keseluruhan rasanya tidak masuk akal. Hazard tetaplah seorang baller, alias pemain yang memiliki skill olah bola tingkat tinggi dan masih dapat mengalami improvement lebih mengingat usianya yang mulai memasuki usia emas sebagai seorang pesepakbola. Jika Hazard dapat mengembalikan kepercayaan dirinya dan mampu mengalirkan gol dan assist cemerlang seperti biasanya, dan juga di saat bersamaan, striker utama Chelsea, Diego Costa, juga mampu lebih fokus untuk memikirkan cara mencetak gol ketimbang terlibat cekcok dengan pemain lawan yang sering membuat dirinya mendapat larangan bertanding karena masalah indisiplinernya tersebut di lapangan, rasanya dua nama ini, Hazard dan Costa, akan kembali menjadi ancaman utama yang harus diwaspadai oleh pemain belakang dari lawan-lawan Chelsea nantinya.

14034792_1201451316584002_8374052274766838342_n

Satu hal yang paling penting yang membuat Chelsea dapat menjadi ancaman serius dalam perebutan gelar juara Premier League adalah, mereka sama sekali tidak bertanding di kompetisi Eropa pada musim ini, baik Champions League (UCL) maupun Europa League (UEL). Mungkin banyak fans Chelsea yang berpendapat bahwa hal tersebut adalah suatu aib, karena sudah sepantasnya tim seperti Chelsea berlaga di kompetisi tertinggi Eropa seperti UCL. Namun, jika kita mau melihat dari sisi yang lain, ini adalah keuntungan terbesar yang didapat oleh Chelsea apabila mereka dapat 100 persen mencurahkan fokusnya pada Premier League dari awal untuk bersaing memperebutkan gelar juara. Ambil contoh Leicester City pada musim lalu. Di saat kompetitor mereka, seperti Tottenham Hotspur, Arsenal, dan Manchester City terpecah konsentrasinya karena harus bertanding melawan klub-klub Eropa di UCL maupun UEL, Leicester justru dapat memanfaatkan waktu mereka untuk beristirahat dan memulihkan kebugaran agar dapat kembali menampilkan penampilan terbaik mereka setiap minggunya, dan mereka berhasil melakukan hal itu secara konsisten. Jadi, rasanya ini merupakan sebuah poin positif yang tidak dimiliki oleh kompetitor Chelsea yang lain, seperti City yang sudah harus bertemu Barcelona di babak penyisihan grup UCL ataupun United yang harus jauh-jauh bertandang ke Turki dan Ukraina di babak penyisihan grup UEL.

antonio-conte-diego-costa

Dengan hal-hal yang sudah dijabarkan di atas, memang terlalu dini untuk mengatakan bahwa Chelsea akan melenggang mudah menjadi juara Premier League pada musim ini, karena musim ini baru saja dimulai dan tentunya Chelsea juga pasti memiliki kelemahan tersendiri yang pelan tapi pasti dapat dimanfaatkan tim lawan untuk mengalahkan mereka. Namun, untuk mencibir dan merendahkan kans Chelsea hanya karena penampilan mereka yang tragis pada musim lalu nampaknya bukan hal yang tepat sasaran. Ada baiknya sejenak kita memperhitungkan lebih peluang Chelsea pada musim ini, agar kita tidak terlalu terkejut seandainya Conte dapat mengikuti jejak seorang Carlo Ancelotti, pelatih asal Italia lainnya yang mampu mempersembahkan trofi Premier League pada musim pertamanya menangani Chelsea, pada musim 2009/2010 yang lalu. Premier League this season is not only about Jose and Pep rivalries in Manchester duo, but there’s also Conte with his regenerated Chelsea side.

premier-league-trophy-epl-instagram

Akan berwarna apakah pita yang disematkan di trofi Premier League musim ini? Merah, biru, ataukah biru langit? Mari bersama temukan jawabannya pada bulan Mei tahun 2017 mendatang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s