Ada Apa Dengan Memphis?

memphis-depay1

Pasca hengkangnya Cristiano Ronaldo ke Real Madrid pada tahun 2009 silam, nampaknya nomor punggung 7 masih menjadi nomor punggung yang belum bertuah kepada pemain Manchester United manapun yang mengenakannya. Korban terakhir adalah Memphis Depay, winger asal Belanda yang sempat mendapat ekspektasi tinggi saat didatangkan dari PSV Eindhoven ke Old Trafford pada musim 2015/2016 yang lalu, namun perlahan-lahan posisinya mulai terpinggirkan dan akhirnya pada bulan Januari 2017 atau tepatnya di bursa transfer musim dingin, Memphis resmi meninggalkan “The Red Devils” untuk bergabung dengan klub asal Perancis, Olympique Lyon.

Sebenarnya apa yang salah dengan Memphis? Mengapa pemain yang di awal musim lalu sempat diharapkan dapat memberi warna dan dimensi baru dalam lini serang United, pada akhirnya melempem dan harus kalah bersaing dengan pemain-pemain United lainnya?

13087210_520988

Jika dilihat lagi ke belakang, sebenarnya apabila dilakukan season review terhadap Memphis secara overall di semua kompetisi yang dilakoni United musim lalu, memang terlihat Memphis hanya mampu mengeluarkan performa terbaiknya saat United bermain melawan tim-tim yang kualitasnya jauh di bawah United. Bisa dibilang, momen terbaik Memphis selama berseragam United hanya datang di awal musim, tepatnya saat United menghadapi klub asal Belgia, Club Brugge, dalam babak kualifikasi Champions League dan juga saat leg kedua Europa League menghadapi tim asal Denmark, FC Midtjylland. Khususnya saat melawan Club Brugge, wajar nampaknya bila ekspektasi fans United saat itu terhadap Memphis membubung tinggi, karena di leg pertama di Old Trafford, Memphis berhasil mencetak dua gol memanfaatkan skill individual yang tinggi ditambah dengan satu assist ciamik kepada Marouane Fellaini di akhir pertandingan, dan membantu United menang dengan skor 3-1. Pada leg kedua di Belgia, Memphis kembali menampilkan penampilan eksplosif dan turut membantu Wayne Rooney mencetak hattrick dengan satu assist-nya di babak pertama, di mana United berhasil menang 4-0. Kemudian satu momen terbaik lagi dari seorang Memphis datang di pertandingan leg kedua melawan FC Midtjylland di babak 32 besar Europa League. Memphis, kembali tampil kesetanan sambil menampilkan trick individualnya saat melewati pemain-pemain bertahan Midtjylland, yang ditutup dengan satu gol dari luar kotak penalti dan menggenapi kemenangan United menjadi 5-1 kala itu.

udepsz9
Skill individu Memphis kala menghadapi FC Midtjylland

 

Namun, bisa dibilang hanya sampai di situ saja momen terbaik dari Memphis yang bisa diingat oleh para fans United. Sisanya, meh. Harus diakui bahwa gaya bermain Memphis terlihat tak mampu banyak membantu United terutama kala berkiprah di Premier League. Gaya bermain Memphis cenderung individualistis, ia juga seringkali gagal melewati pemain-pemain bertahan lawan dan memberikan bola begitu saja dengan mudah kepada pemain lawan setelah mencoba untuk show-off akan skill individu yang dimilikinya. Hal tersebut sudah terlihat kala manajer United musim lalu, Louis van Gaal (LVG), mengganti Memphis dengan Ashley Young di jeda half-time kala United menghadapi Liverpool. Hasilnya, Ashley Young bermain dengan cukup efektif, tidak banyak basa-basi dengan pamer trik sana-sini, dan terbukti pergerakannya mampu menghasilkan tendangan bebas yang berhasil dimanfaatkan Daley Blind untuk mencetak gol pertama United, serta Young juga berhasil membuat satu assist untuk membantu Anthony Martial mencetak gol pada debutnya bersama United. Sejak saat itu, perlahan tapi pasti posisi Memphis perlahan-lahan mulai terpinggirkan, terutama setelah United kalah telak 0-3 di Emirates Stadium, kandang Arsenal. Ditambah dengan kedatangan Martial, pemain yang pada akhirnya diprioritaskan LVG bermain di sayap kiri, membuat posisi Memphis sebagai winger yang seolah sudah nyaman di awal musim menjadi tergoyahkan. Penampilan apik Martial yang mampu dengan mudahnya melewati pemain-pemain bertahan lawan memanfaatkan kecepatan dan dribble skill yang ia miliki membuat Memphis sulit untuk merebut kembali posisinya dari pemain muda asal Perancis tersebut. Sampai dirinya dilepas ke Lyon pada bursa transfer Januari ini, Memphis hanya mampu mencetak dua gol di Premier League dari 33 pertandingan.

Kembali, apa yang salah?

memphisdepayshrewsburytownvmanchestervk-l7t7qskrx

Berbagai asumsi pun bermunculan. Hal yang paling masuk akal adalah, it’s all about Memphis’s attitude itself. Saat bermain, body language yang dimiliki Memphis terkesan dirinya seperti orang yang ogah-ogahan. Bila mau bermain sedikit cocoklogi, marilah kita lihat kehidupan Memphis di social media. Memphis lebih sering terlihat bak seorang swagger dibandingkan dengan pemain sepakbola profesional pada umumnya. Bisa dibilang, Memphis seolah menganggap dirinya sudah menjadi orang paling sukses saat dirinya direkrut United, salah satu tim terbesar di Eropa. Mungkin dia lupa, bahwa klub yang ia bela adalah Manchester United, tidaklah sembarangan bagi setiap pemain bisa mengenakan jersey berwarna merah dari klub kebanggaan kota Manchester tersebut. Banyak pemain yang datang dan pergi begitu saja karena berbagai alasan, mulai dari masalah internal hingga alasan tidak cukup baik untuk klub sebesar United. Pemain-pemain yang memberikan effort mereka 100 persen bagi klub pun, dapat didepak dari klub apabila dirasa sudah tidak cocok lagi dengan skema permainan United, seperti Javier Hernandez misalnya. There’s always no safe spot in this club. Dan mungkin Memphis tidak menyadari hal tersebut, dan tetap saja sibuk ber-Twitter ria tanpa peduli dengan seburuk apapun performa yang ia tampilkan di lapangan hijau, seolah tanpa dosa.

2181

Asumsi lainnya yang mungkin terdengar agak harsh adalah, mungkin pada kenyataannya memang Memphis tidak cukup baik untuk bermain di kompetisi sekelas Premier League. Agak disayangkan, mengingat Memphis sendiri datang ke Premier League dengan status sebagai juara Eredivisie bersama PSV Eindhoven, di mana ia juga berhasil menjadi top skor dengan 22 golnya. Dengan begitu besarnya ekspektasi awal akan potensi yang dimiliki oleh Memphis tersebut, sekali lagi, agak disayangkan Memphis gagal menunjukkan performa seperti yang ia lakukan di Eredivisie saat bermain di Premier League. Tapi, apa mau dikata. Kultur sepakbola Premier League memang lebih keras, cepat, dan direct dibandingkan dengan Eredivisie, belum lagi Premier League adalah liga di mana banyak pemain-pemain berkualitas bernaung di sana. Terlepas dari itu semua, nasi sudah menjadi bubur. Memphis kini sudah dijual ke Lyon, dan Jose Mourinho perlu diberi kredit tersendiri karena sudah berhasil melakukan bisnis yang cukup profitable bagi United. Biaya transfer Memphis yang mencapai 16 juta poundsterling (dan bahkan dapat naik menjadi 21,7 juta poundsterling) adalah suatu harga yang cukup menguntungkan mengingat Memphis sendiri adalah pemain yang bahkan seringkali tidak masuk skuad pertandingan pada musim ini. Sebuah transfer policy yang harus diakui telah dilakukan dengan sangat baik oleh United, selain mereka juga telah menjual Morgan Schneiderlin, yang juga lebih banyak menjadi bench warmer, ke Everton dengan mahar 20 juta poundsterling (yang dapat naik menjadi 24 juta poundsterling).

ol-en-quoi-memphis-depay-va-changer-l-attaque-de-lyon-iconsport_win_220117_08_26168482

Kembali ke Memphis. Kini, dirinya telah berada di liga yang, dengan tanpa maksud merendahkan, memiliki level yang masih di bawah Premier League. Mari kita lihat, apakah Memphis akan tetap melempem atau dapat kembali menampilkan permainan terbaiknya seperti halnya pemain-pemain lain yang menemukan kembali performa terbaiknya setelah sempat redup di klub lain, seperti Mario Balotelli, Hatem Ben Arfa, hingga Radamel Falcao, sekaligus membuktikan kepada United bahwa mereka telah salah menjual dirinya (?)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s